Ribut Itu Rugi: Indonesia Negara Damai Tak Butuh Demo Impor

19 Okt 20266FFajri Yanuar
images (8) cropped

Belakangan ini dunia memang sedang bergolak. Prancis dilanda demonstrasi besar-besaran dan kerusuhan di sejumlah kota, dipicu kebijakan penghematan anggaran, rencana pemangkasan belanja publik, serta persoalan pendidikan. Bahkan Inggris juga sempat memanas akibat biaya hidup dan ketimpangan ekonomi. Di banyak negara, rakyat turun ke jalan karena kebijakan pemerintahnya dinilai tidak berpihak pada mereka.

 

Menanggapi kondisi ini pertanyaannya adalah apakah kondisi Indonesia sama? Jawabannya tegas, tentu tidak. Dan karena itu, ikut-ikutan demo hanya karena melihat video dari luar negeri adalah tindakan tanpa dasar yang justru merugikan kita sendiri.

 

Prancis berdemonstrasi karena ekonominya memang bermasalah dimana pertumbuhan melambat, defisit anggaran membengkak, dan pemerintahnya terpaksa memangkas belanja publik. Indonesia bergerak ke arah sebaliknya. Ekonomi kita tumbuh stabil di kisaran 5 persen, inflasi terjaga rendah, dan daya beli rakyat relatif terkendali semua ini data resmi BPS dan Bank Indonesia, bukan klaim kosong.

 

Ketika Prancis memangkas, Indonesia justru memperbesar dukungan. Anggaran pendidikan naik setiap tahun dan konstitusi mewajibkan minimal 20 persen APBN untuk pendidikan. Program Indonesia Pintar (PIP) terus diperluas menjangkau lebih banyak siswa dari keluarga kurang mampu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) memastikan anak sehat dan siap belajar, revitalisasi sekolah dikebut terutama di daerah dengan ruang kelas rusak, dan wacana pendidikan gratis sedang dikaji serius sebagai langkah lanjutan. Ini bukan retorika, melainkan arah kebijakan yang jelas dengan memperkuat pendidikan dan kesejahteraan, bukan memangkasnya seperti yang memicu kemarahan di Prancis.

 

Di sinilah analisisnya menjadi tajam. Demo di Prancis punya pemicu nyata—kebijakan pemerintahnya memang memicu resistensi. Indonesia tidak mengalami kondisi itu. Maka turun ke jalan hanya karena terpengaruh konten media sosial adalah kekeliruan dimana berpikir meniru gejala tanpa memahami penyebabnya.

 

Yang kita butuhkan sekarang bukan kegaduhan, apalagi kerusuhan. Stabilitas adalah fondasi pembangunan dan jika jalanan gaduh, investasi kabur, lapangan kerja terancam, dan yang paling dirugikan justru rakyat kecil. Menyampaikan pendapat itu hak, tetapi membuat rusuh bukan cara yang benar. Kita bisa berkontribusi dengan belajar sungguh-sungguh, bekerja jujur, dan mengawal program pemerintah agar tepat sasaran.

 

Indonesia adalah negara damai. Kedamaian ini bukan hadiah, melainkan hasil kerja bersama yang harus dijaga. Jangan sampai kita terprovokasi oleh situasi negara lain yang kondisinya berbeda. Mari berpikir jernih, cek data, dan jangan asal ikut-ikutan. Sekarang tugas kita sederhana yaitu jaga Indonesia tetap tenang, aman, dan terus melaju. Jangan buat gaduh, apalagi rusuh.

Komentar (0)

Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.

Masuk atau daftar untuk bergabung dalam diskusi. Kami melindungi akun Anda dengan keamanan berlapis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.