Seragam Sama, Harapan Sama: Tak Boleh Ada Anak Indonesia yang Tertinggal

sekolah rakyat hidupkan mimpi anak bangsa lewat pendidikan yang setara 1767671068059 cropped

Setiap tahun dan pada ajaran baru sekolah, ada pemandangan hangat yang selalu terulang di berbagai pelosok Indonesia. Senyum polos anak-anak yang mengenakan seragam putih-merah baru, berjalan menyusuri jalan setapak, gang sempit, hingga menyeberangi jembatan kayu di atas sungai. Di balik warna seragam yang sama itu, ada satu tekad yang sama yakni keinginan untuk belajar dan meraih cita-cita.

 

Namun, jujur harus kita akui, selama berpuluh-puluh tahun warna seragam yang sama itu belum tentu membawa kesempatan yang sama. Seorang anak di pelosok sering kali harus belajar di bawah atap sekolah yang bocor, memegang buku yang warnanya sudah memudar, atau menahan lapar karena orang tuanya kesulitan membeli makan siang. Sementara di kota besar, anak-anak sebaya mereka bisa belajar di ruangan ber-AC dengan akses internet cepat. Di titik inilah kita sadar bahwa ketimpangan pendidikan bukan sekadar angka di kertas statistik, melainkan tentang nasib dan air mata jutaan keluarga.

 

Itulah mengapa langkah dan kebijakan pemerintah dalam memperluas akses pendidikan mulai dari pembebasan biaya sekolah, perbaikan fasilitas di daerah terpencil, hingga program pemenuhan gizi anak sekolah harus kita pandang dari kacamata empati.

 

Kritik dan dinamika dalam menjalankan program besar tentu akan selalu ada. Membangun sekolah di daerah pelosok atau memastikan bantuan tepat sasaran memang bukan pekerjaan yang selesai dalam semalam. Namun, arah dan komitmen yang sedang dituju sudah sangat jelas dimana negara sedang hadir untuk memeluk anak-anak yang selama ini berdiri di pinggiran.

 

Pendidikan gratis dan jaminan gizi bukan sekadar bentuk bantuan sosial atau bagi-bagi anggaran. Ini adalah investasi kasih sayang negara. Ketika seorang anak dari keluarga kurang mampu bisa makan dengan tenang dan belajar di kelas yang layak, orang tuanya bisa bernapas lega. Ayah dan ibu mereka tak perlu lagi merasa cemas atau berkecil hati bahwa kemiskinan akan menjadi warisan bagi anak-anak mereka.

 

Seragam putih-merah, biru-putih, hingga abu-abu yang mereka kenakan adalah simbol persatuan. Jika seragam mereka sudah sama, maka harapan dan kesempatan mereka pun harus sama. Tak boleh ada lagi cerita tentang anak yang putus sekolah hanya karena tak ada biaya, atau cita-cita yang padam hanya karena lahir di tempat yang jauh dari pusat kota.

 

Tugas kita bersama hari ini bukan lagi saling menyalahkan, melainkan menjaga agar jalan yang sudah dibuka ini terus berjalan lurus. Sebab ketika kita memberikan kesempatan yang setara bagi setiap anak Indonesia, kita sebenarnya sedang membangun masa depan bangsa yang jauh lebih kuat, adil, dan bermartabat.

Komentar (0)

Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.

Masuk atau daftar untuk bergabung dalam diskusi. Kami melindungi akun Anda dengan keamanan berlapis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.