Presiden Prabowo: Jika Ingin Maju, Berantas Korupsi dan Jadikan Integritas Sebagai Fondasi

2 Nov 202655Foto Reza HermawanReza Hermawan
890471 cropped

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa korupsi, penyelewengan anggaran, dan penyalahgunaan wewenang merupakan awal dari kehancuran suatu bangsa. Pernyataan tersebut disampaikan saat meresmikan SMA Taruna Nusantara Kampus Cimahi, Jawa Barat, pada 30 Oktober 2026.

Pesan ini bukan sekadar peringatan moral, melainkan penegasan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada kemampuan negara menjaga kekayaan bangsa dan memastikan setiap rupiah anggaran digunakan untuk kepentingan rakyat.

Korupsi merupakan ancaman serius terhadap pembangunan nasional. Ketika anggaran negara diselewengkan, yang dirugikan bukan hanya keuangan pemerintah, melainkan juga masyarakat yang seharusnya menerima manfaat dari pembangunan.

Dana yang semestinya digunakan untuk membangun sekolah, memperbaiki fasilitas kesehatan, menyediakan infrastruktur, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat justru dapat beralih menjadi keuntungan pribadi atau kelompok tertentu.

Karena itu, penegasan Presiden Prabowo bahwa korupsi merupakan awal kehancuran bangsa patut dipandang sebagai ajakan untuk membangun pemerintahan yang bersih, berintegritas, dan bertanggung jawab.

Presiden juga mengingatkan bahwa sumber daya bangsa harus dijaga agar tidak dicuri, diselewengkan, ataupun dikorupsi. Pesan ini menegaskan bahwa kekayaan negara bukan milik segelintir pejabat, melainkan amanah yang harus dikelola sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Data Korupsi Menjadi Alarm Bagi Seluruh Penyelenggara Negara

Berdasarkan laporan Transparency International, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia tahun 2025 memperoleh skor 34 dari 100 dan berada pada peringkat 109 dari 182 negara. Skor tersebut turun tiga poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Selama dua tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, aparat penegak hukum seperti Kejaksaan Agung (Kejagung) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membongkar sejumlah kasus korupsi besar.

• Kasus Tata Kelola Minyak Mentah Pertamina. Ditangani oleh Kejagung dengan kerugian negara diperkirakan mencapai Rp285 triliun (periode 2018–2023), melibatkan sejumlah tersangka termasuk pengusaha Muhammad Riza Khalid.

• Korupsi Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kasus yang ditangani Kejagung terkait dugaan penyimpangan dan mark-up pengadaan di bawah Badan Gizi Nasional (BGN) untuk tahun anggaran 2025–2026 dengan estimasi kerugian negara sekitar Rp10 triliun hingga Rp10,5 triliun per tahun.

• Pengadaan Chromebook Kemendikbudristek. Kasus pengadaan yang merugikan negara sekirar Rp2,18 triliun, dengan ditetapkannya Nadiem Anwar Makarim sebagai tersangka pada September 2025.

• Korupsi Impor Gula Kementerian Perdagangan. Kasus yang melibatkan mantan Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong (Tom Lembong) untuk periode 2015–2023 dengan kerugian negara mencapai Rp578,1 miliar.

• Pemerasan Sertifikasi K3 Kementerian Ketenagakerjaan. Diungkap oleh KPK lewat operasi tangkap tangan (OTT) pada Agustus 2025 yang menetapkan mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer (Noel) sebagai tersangka dengan aliran dana pemerasan sekitar Rp81 miliar.

• Pemerasan dan Gratifikasi Izin Tinggal WNA di Imigrasi. Kasus yang diusut oleh KPK dan menetapkan mantan Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Silmy Karim sebagai tersangka pada Juni 2026.

• Kasus Korupsi Ekspor Crude Palm Oil (CPO). Kasus yang melibatkan sitaan uang negara sebesar Rp13 triliun yang diserahkan dan disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo di Kejagung.

Data tersebut sekaligus memperkuat urgensi pesan Presiden Prabowo bahwa pemberantasan korupsi tidak boleh berhenti pada penindakan, tetapi harus disertai pembenahan sistem agar kebocoran anggaran tidak terus berulang.

Komitmen Presiden Prabowo Membangun Pemerintahan Yang Bersih

Presiden Prabowo telah berulang kali menegaskan pentingnya membersihkan pemerintahan dari korupsi dan penyelewengan. Dalam sambutannya pada peringatan Nuzulul Qur'an tingkat kenegaraan, 10 Maret 2026, Presiden menyatakan bahwa tidak ada negara yang berhasil apabila pemerintahannya tidak mampu membersihkan diri dari korupsi.

Komitmen tersebut juga terlihat dalam arahan Presiden pada Sidang Kabinet Paripurna, 20 Juli 2026, yang menekankan pentingnya memperbaiki tata kelola ekonomi dan menutup berbagai praktik yang menyebabkan kebocoran kekayaan negara.

Langkah tersebut penting karena korupsi tidak selalu terjadi melalui pengambilan uang secara langsung. Penyalahgunaan wewenang, manipulasi laporan perdagangan, penyelundupan, hingga praktik yang merugikan penerimaan negara juga dapat menggerogoti kemampuan pemerintah membiayai pembangunan.

Dengan memperkuat pengawasan, transparansi, dan penegakan hukum, pemerintah dapat memastikan bahwa kekayaan nasional benar-benar kembali kepada rakyat.

Pendidikan dan Integritas Harus Berjalan Beriringan

Menariknya, Presiden Prabowo menyampaikan peringatan anti korupsi tersebut dalam peresmian SMA Taruna Nusantara Kampus Cimahi.

Hal ini memperlihatkan bahwa pembangunan bangsa tidak cukup hanya dengan mencetak generasi yang cerdas dan memiliki kemampuan akademik tinggi. Indonesia juga membutuhkan pemimpin yang memiliki moralitas, integritas, dan keberanian untuk menolak penyalahgunaan kekuasaan.

Pemimpin yang pintar tetapi tidak memiliki integritas dapat menjadi ancaman bagi masyarakat. Sebaliknya, pemimpin yang cerdas, jujur, dan bertanggung jawab akan mampu menggunakan kemampuannya untuk menciptakan kemajuan dan keadilan.

Penegasan Presiden Prabowo bahwa korupsi merupakan awal kehancuran bangsa menjadi pengingat bahwa kemajuan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran pembangunan, tetapi juga oleh bagaimana anggaran tersebut dikelola dengan benar.

Dengan kata lain, Indonesia tidak akan mencapai kemajuan yang berkelanjutan apabila kekayaan bangsanya terus bocor akibat korupsi. Karena itu, komitmen Presiden Prabowo untuk menjaga kekayaan negara dan memberantas penyelewengan patut didukung melalui pengawasan publik, penegakan hukum yang adil, serta budaya integritas di seluruh institusi. Sehingga, pemerintahan yang bersih bukan hanya cita-cita melainkan fondasi utama untuk mewujudkan Indonesia yang kuat, adil, dan sejahtera.

Komentar (0)

Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.

Masuk atau daftar untuk bergabung dalam diskusi. Kami melindungi akun Anda dengan keamanan berlapis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.