Melihat Komitmen Sugiono dalam Membangun Manusia Unggul

8 Okt 202635FFajri Yanuar
menlu sugiono 1790231927336 169 cropped

Kalau bicara soal pembangunan manusia, kita sering membayangkan sekolah, universitas, atau pelatihan kerja. Padahal membangun manusia unggul jauh lebih besar dari itu. Ada pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, sampai kemampuan masyarakat menghadapi perubahan zaman.

 

Di sinilah menarik melihat langkah Sugiono setelah dipercaya menjadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). Baru menerima estafet kepemimpinan pada 5 Oktober 2026, Sugiono langsung menegaskan bahwa pembangunan manusia unggul menjadi salah satu fokus utamanya. Ia tidak memulai dari nol, tetapi ingin melanjutkan program yang sudah berjalan dan mempercepat bagian yang masih kurang.

 

Menurut saya, ini penting karena pembangunan manusia tidak bisa dikerjakan oleh satu kementerian saja. Pendidikan tidak bisa dipisahkan dari kesehatan. Kesehatan tidak bisa dipisahkan dari kemiskinan. Begitu juga kualitas tenaga kerja tidak bisa dipisahkan dari kualitas pendidikan sejak anak-anak.

 

Karena itu, Sugiono membawa empat fokus utama, yaitu pendidikan, kesehatan, ketahanan bencana, dan penurunan kemiskinan. Empat hal ini sebenarnya saling berhubungan. Anak yang sehat lebih siap belajar. Anak yang mendapat pendidikan berkualitas punya peluang lebih besar keluar dari kemiskinan. Masyarakat yang kuat secara ekonomi juga lebih mampu menghadapi krisis.

 

Salah satu pekerjaan besar adalah pemerataan pendidikan. Pemerintah saat ini mendorong renovasi sekolah dan madrasah, pembangunan Sekolah Rakyat, Sekolah Nasional Terintegrasi, sekolah unggul, peningkatan kesejahteraan guru, sampai digitalisasi pendidikan.

 

Bahkan dalam kebijakan pendidikan 2026, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp757,8 triliun untuk anggaran pendidikan atau 20 persen dari APBN. Ada pula Program Indonesia Pintar untuk 21,1 juta siswa, KIP Kuliah untuk 1,2 juta mahasiswa, serta anggaran sekitar Rp150,1 triliun untuk peningkatan fasilitas sekolah dan kampus.

 

Yang menarik, pada 7 Oktober 2026 Sugiono juga melihat langsung pelaksanaan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 7 Bogor. Program ini menjadi bagian dari target pemerintah membangun 500 SNT dalam tiga tahun, dengan tujuan memberikan akses pendidikan berkualitas kepada anak-anak berprestasi dari berbagai daerah. SNT 7 Bogor sendiri mulai beroperasi pada Agustus 2026 dengan 80 siswa.

 

Artinya, konsep manusia unggul yang dibicarakan pemerintah bukan sekadar jargon. Ada upaya membangun ekosistem pendidikan dari sekolah, guru, fasilitas, sampai pengembangan talenta.

Tapi membangun manusia unggul bukan cuma membuat anak pintar. Manusia unggul harus sehat, punya pendidikan, punya kesempatan, dan mampu bersaing. Dan yang paling penting adalah jangan sampai ada yang tertinggal.

 

Di sinilah tantangan terbesar Sugiono. Indonesia bukan hanya Jakarta, Surabaya, Bandung, atau kota-kota besar. Masih ada masyarakat di daerah yang akses pendidikannya terbatas, layanan kesehatannya jauh, dan kondisi ekonominya berat.

 

Pemerintah bahkan menerbitkan Perpres Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah. Kebijakan ini diarahkan untuk memastikan anak-anak yang keluar dari sistem pendidikan bisa kembali mendapatkan haknya sekaligus memperkuat pelaksanaan Wajib Belajar 13 Tahun.

 

Menurut saya, ini justru ukuran keberhasilan pembangunan manusia yang sebenarnya. Bukan hanya berapa banyak sekolah dibangun. Bukan hanya berapa banyak anggaran pendidikan dikeluarkan. Tetapi berapa banyak anak Indonesia yang sebelumnya sulit mendapatkan kesempatan, akhirnya bisa sekolah, sehat, punya keterampilan, dan memiliki masa depan.

 

Karena itu, langkah Sugiono sebagai Menko PMK patut dilihat bukan hanya dari jabatan barunya, tetapi dari kemampuannya mengorkestrasi banyak kementerian agar bergerak ke arah yang sama.

 

Presiden Prabowo punya target besar yaitu membangun manusia Indonesia unggul menuju Indonesia Emas 2045. Sugiono sekarang mendapat tugas untuk membantu memastikan target itu tidak berhenti sebagai slogan.

 

Kalau pendidikan diperbaiki, kesehatan diperkuat, kemiskinan ditekan, dan akses kesempatan diperluas, maka Indonesia bukan cuma sedang membangun ekonomi. Indonesia sedang membangun manusianya. Dan kalau manusianya kuat, masa depan bangsa juga jauh lebih kuat.

Komentar (0)

Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.

Masuk atau daftar untuk bergabung dalam diskusi. Kami melindungi akun Anda dengan keamanan berlapis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.