Konser Ye Hasilkan Perputaran Ekonomi Rp600 Miliar: Indonesia Jadi Destinasi Musik Dunia

27 Okt 202659Foto Reza HermawanReza Hermawan
873689 cropped

Penyelenggaraan konser musik internasional Ye Live in Jakarta pada Sabtu, 24 Oktober 2026, memberikan gambaran nyata tentang besarnya potensi pariwisata berbasis acara atau event tourism dalam menggerakkan perekonomian Indonesia. Konser yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, tersebut diperkirakan menghasilkan perputaran ekonomi hingga Rp600 miliar, menurut data penyelenggara Raw Vision Collective dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta yang diberitakan pada 27 Oktober 2026.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menilai kehadiran puluhan ribu penonton dari berbagai negara menunjukkan bahwa Indonesia memiliki daya tarik sebagai destinasi pertunjukan musik internasional. Capaian ini sekaligus membuka peluang untuk memperkuat pariwisata Indonesia agar tidak hanya mengandalkan keindahan alam dan kekayaan budaya, tetapi juga menjadi tujuan perjalanan bagi penggemar hiburan kelas dunia.

25 ribu wisatawan mancanegara, peluang besar bagi pariwisata Indonesia

Berdasarkan data penyelenggara per 26 Oktober 2026, konser Ye Live in Jakarta dihadiri sekitar 70.000 penonton. Dari jumlah tersebut, kurang lebih 25.000 merupakan penonton mancanegara yang datang dari 80 negara. Australia, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Tiongkok termasuk negara penyumbang penonton asing terbanyak.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa konser internasional dapat menjadi alasan bagi wisatawan untuk melakukan perjalanan lintas negara. Musik tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga dapat menjadi daya tarik wisata yang memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat internasional.

Menteri Pariwisata menekankan bahwa konser musik internasional merupakan momentum penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri pariwisata global. Kehadiran wisatawan dari berbagai negara menjadi peluang untuk meningkatkan belanja wisatawan, memperpanjang lama tinggal, serta mendorong mereka mengunjungi destinasi wisata lainnya.

Dengan demikian, manfaat sebuah konser berpotensi melampaui lokasi pertunjukan. Wisatawan dapat memanfaatkan waktu kunjungan mereka untuk menikmati kuliner lokal, berbelanja produk dalam negeri, mengunjungi objek wisata, serta merasakan pengalaman budaya Indonesia.

Perputaran ekonomi Rp600 miliar, manfaatnya menjangkau berbagai sektor

Estimasi perputaran ekonomi Rp600 miliar menjadi salah satu indikator penting dari dampak konser Ye di Jakarta. Aktivitas ekonomi tersebut mencakup penjualan tiket, kuliner, merchandise, serta transaksi yang melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Sektor perhotelan juga memperoleh manfaat. Tingkat okupansi hotel di sekitar lokasi konser dilaporkan meningkat hingga mendekati 100 persen. Selain itu, sekitar 5.000 pekerja terlibat dalam penyelenggaraan acara, mulai dari tenaga produksi hingga operasional pendukung.

Data tersebut menunjukkan bagaimana sebuah event internasional dapat menghubungkan berbagai kegiatan ekonomi. Penyelenggara konser membutuhkan tenaga kerja, hotel menyediakan akomodasi, restoran melayani pengunjung, pengemudi transportasi mengantar wisatawan, sementara UMKM berpeluang meningkatkan penjualan.

Meski demikian, besarnya manfaat yang diterima setiap sektor dapat berbeda. Karena itu, tantangan berikutnya adalah memastikan peluang ekonomi dari event berskala internasional juga dapat dinikmati oleh pelaku usaha lokal secara lebih luas.

Memperkuat ekosistem event internasional

Dukungan terhadap konser Ye merupakan bagian dari upaya Kementerian Pariwisata memperkuat Indonesia sebagai destinasi penyelenggaraan event kelas dunia melalui program prioritas Event by Indonesia.

Dalam keterangan resmi pada 15 September 2026, Kementerian Pariwisata menyampaikan bahwa sepanjang Januari hingga Juli 2026, sebanyak 105 event telah memperoleh dukungan melalui program tersebut. Berdasarkan kajian dampak kementerian, rangkaian kegiatan itu melibatkan lebih dari 6,47 juta pengunjung, 11.000 UMKM, serta lebih dari 184.000 pekerja seni dan anggota komunitas, dengan estimasi perputaran uang mencapai Rp1,09 triliun.

Capaian itu memberikan konteks bahwa pengembangan pariwisata berbasis acara bukan hanya bergantung pada satu konser. Diperlukan ekosistem yang melibatkan promotor, pelaku industri kreatif, penyedia akomodasi, transportasi, pelaku kuliner, UMKM, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Dalam hal ini, peran Menteri Pariwisata menjadi penting untuk mendorong promosi destinasi, memfasilitasi penyelenggaraan event sesuai kewenangan kementerian, serta memperkuat koordinasi lintas sektor agar Indonesia semakin menarik bagi penyelenggara internasional.

Kementerian Pariwisata juga menyatakan dukungannya terhadap pengembangan event musik internasional sebagai sarana memperluas eksposur Indonesia di mata dunia.

Indonesia perlu mengubah momentum menjadi manfaat jangka panjang

Keberhasilan menarik puluhan ribu penonton asing menjadi peluang untuk memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi wisata internasional. Namun, ukuran keberhasilan pariwisata tidak cukup berhenti pada jumlah penonton atau besarnya perputaran ekonomi selama acara berlangsung.

Langkah selanjutnya adalah mendorong wisatawan agar tinggal lebih lama, mengunjungi lebih banyak destinasi, serta membelanjakan uangnya pada produk dan jasa yang dihasilkan masyarakat Indonesia.

Pemerintah dan pelaku industri dapat memperkuat paket wisata yang menggabungkan konser dengan wisata budaya, kuliner, belanja, dan destinasi unggulan. Informasi perjalanan yang mudah diakses, transportasi yang memadai, pelayanan yang baik, keamanan, dan pengelolaan lingkungan juga perlu menjadi bagian dari standar penyelenggaraan event internasional.

Evaluasi setelah acara pun penting dilakukan untuk mengukur dampak ekonomi secara lebih terperinci, termasuk manfaat yang benar-benar diterima UMKM, pekerja lokal, dan sektor pariwisata di luar kawasan konser.

Dengan pendekatan tersebut, konser internasional tidak hanya menjadi peristiwa hiburan sesaat, tetapi juga dapat berfungsi sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan beragam potensi wisata Indonesia.

Pariwisata sebagai penggerak ekonomi nasional

Estimasi perputaran ekonomi hingga Rp600 miliar dari konser Ye Live in Jakarta memperlihatkan besarnya peluang yang dapat dihasilkan oleh pariwisata berbasis event. Kehadiran sekitar 25.000 penonton mancanegara dari 80 negara, tingginya okupansi hotel di sekitar lokasi, serta keterlibatan ribuan pekerja menunjukkan adanya aktivitas ekonomi yang meluas ke berbagai sektor.

Bagi Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, momentum ini dapat menjadi pijakan untuk terus memperkuat Indonesia sebagai destinasi pertunjukan musik internasional. Potensi tersebut perlu diikuti dengan peningkatan kualitas layanan, pengembangan paket wisata, pemberdayaan UMKM, dan pengukuran dampak ekonomi yang transparan.

Indonesia memiliki peluang untuk menjadikan musik sebagai salah satu pintu masuk pariwisata dunia. Tantangan ke depan adalah memastikan setiap event internasional tidak hanya mendatangkan pengunjung, tetapi juga menghasilkan manfaat yang lebih merata, membuka kesempatan kerja, dan memperkuat usaha masyarakat.

Dengan pengembangan ekosistem event yang berkelanjutan, pariwisata dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi yang mempertemukan daya tarik Indonesia, kreativitas industri, dan peluang usaha bagi masyarakat. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa dengan banyaknya penonton asal Indonesia, ekonomi masyarakat Indonesia baik-baik saja dan menepis isu atas klaim keterpurukan ekonomi.

Komentar (0)

Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.

Masuk atau daftar untuk bergabung dalam diskusi. Kami melindungi akun Anda dengan keamanan berlapis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.