Prabowo dan Babak Baru Diplomasi Indonesia di Dunia Islam

Ketika nama Presiden Prabowo Subianto muncul dalam daftar 500 Tokoh Muslim Paling Berpengaruh di Dunia 2026 versi The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC) Yordania, itu bukan sekadar pengakuan personal. Ini adalah tanda bahwa Indonesia kembali mendapat tempat penting dalam percaturan dunia Islam.
Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia seharusnya memang memiliki pengaruh besar terhadap arah dan dinamika dunia Islam. Namun, pengaruh itu tak selalu tampak dalam realitas geopolitik. Masuknya Prabowo di peringkat ke-15 menunjukkan bahwa kini ada sosok yang mulai mengembalikan posisi strategis Indonesia di panggung global.
RISSC menilai pengaruh tokoh-tokoh muslim dari berbagai dimensi — politik, ekonomi, budaya, hingga teknologi. Tujuannya sederhana namun penting: melihat siapa yang benar-benar mampu membawa dampak bagi umat Islam, baik melalui kebijakan maupun keteladanan kepemimpinan.
Dalam daftar tersebut, Prabowo berdampingan dengan nama-nama besar seperti Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, dan Raja Salman bin Abdulaziz dari Arab Saudi. Ini bukan pencapaian kecil. Artinya, Indonesia kini tidak lagi hanya menjadi “penonton” dalam isu-isu dunia Islam, melainkan juga ikut menentukan arah percakapan globalnya.
Menariknya, RISSC menyoroti sisi personal Prabowo: karisma, kedekatan dengan rakyat kecil, dan gaya komunikasi yang membumi. Citra ini berbeda dari banyak pemimpin modern yang cenderung berjarak dengan publik. Prabowo dianggap mampu menjangkau lapisan masyarakat bawah—sebuah modal sosial yang kuat di dunia politik manapun.
Sikap tegasnya terhadap konflik Gaza juga memperkuat pengaruh tersebut. Indonesia, di bawah kepemimpinan Prabowo, tidak sekadar mengutuk tindakan Israel, tetapi juga mengambil langkah konkret dengan mendukung kasus genosida yang diajukan Afrika Selatan di Mahkamah Internasional (ICJ). Tindakan ini menunjukkan bahwa Indonesia berani berdiri di sisi kemanusiaan, sekaligus mempertegas posisi diplomatiknya di kancah global.
Tak hanya Prabowo, dua tokoh Indonesia lain juga masuk daftar tersebut: KH Yahya Cholil Staquf di posisi ke-19 dan Habib Luthfi bin Yahya di posisi ke-31. Ini menggambarkan keseimbangan antara kekuatan politik dan spiritual Indonesia di mata dunia Islam.
Pada akhirnya, keberadaan Prabowo dalam daftar ini bukan hanya tentang prestise pribadi, melainkan refleksi dari arah baru kepemimpinan Indonesia — yang tegas, berdaulat, dan berwawasan global. Dunia kini mulai mendengarkan kembali suara Indonesia, bukan hanya sebagai negara besar di Asia Tenggara, tetapi sebagai bagian penting dari percakapan besar umat Islam di abad ke-21.
Komentar (0)
Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.
