
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar persoalan api yang membakar pepohonan. Di balik asap yang menyelimuti wilayah terdampak, ada kesehatan masyarakat yang terancam, aktivitas ekonomi warga yang terganggu, bahkan keselamatan jiwa yang harus dilindungi.
Karena itu, penanganan karhutla tidak boleh hanya mengandalkan hujan atau menunggu api membesar sebelum bertindak. Dibutuhkan kesiapsiagaan, pengawasan, dan tindakan nyata yang dilakukan secara konsisten.
Pesan inilah yang kembali ditegaskan Presiden Prabowo Subianto melalui arahan kepada jajaran kementerian, lembaga, aparat penanggulangan bencana, dan pemerintah daerah.
Arahan tersebut ditindaklanjuti Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono dengan menginstruksikan penguatan patroli darat serta pemenuhan sarana mitigasi secara menyeluruh.
Dalam Rapat Koordinasi Pembaruan Informasi Cuaca dan Penguatan Patroli Darat Penanganan Karhutla, Kamis (29/10/2026), Menko PMK Sugiono menegaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan telah membawa dampak yang jauh lebih luas daripada kerusakan lingkungan.
Persoalan ini menyangkut kesehatan, keselamatan masyarakat, dan keberlangsungan ekosistem. Bahkan, karhutla telah menimbulkan korban jiwa. Artinya, setiap keterlambatan pencegahan dapat membawa konsekuensi yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat.
Menko Sugiono juga menekankan pentingnya mengerahkan seluruh kemampuan manusia untuk mengantisipasi bencana, bukan sekadar berharap pada perubahan cuaca.
Salah satu perhatian serius adalah munculnya titik-titik api baru ketika proses pemadaman masih berlangsung. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya penanganan harus berjalan beriringan dengan pengawasan dan pencegahan.
Karena itu, penguatan patroli darat di wilayah prioritas menjadi langkah penting untuk mendeteksi potensi kebakaran lebih awal sekaligus mencegah praktik pembakaran lahan secara sengaja.
Di sinilah peran koordinasi yang dijalankan Menko PMK Sugiono menjadi penting. Penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, BNPB, aparat keamanan, hingga masyarakat di sekitar kawasan rawan kebakaran.
Presiden Prabowo mengarahkan agar seluruh kemampuan negara digunakan untuk menghadapi ancaman tersebut. Sementara itu, Menko PMK Sugiono memastikan koordinasi dan kebutuhan penanganan di lapangan terus diperhatikan.
Tidak berhenti pada karhutla, Sugiono juga mengingatkan pemerintah daerah agar bersiap menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor. Inventarisasi kebutuhan peralatan, normalisasi sungai, serta perbaikan saluran drainase menjadi bagian dari langkah mitigasi yang perlu segera dilakukan.
Pada akhirnya, keberhasilan penanganan bencana tidak hanya diukur dari seberapa cepat api dipadamkan, tetapi juga dari seberapa banyak masyarakat yang berhasil dilindungi dari ancaman.
Apa yang ditekankan Presiden Prabowo dan ditindaklanjuti Menko PMK Sugiono memperlihatkan pentingnya mengubah pola penanganan bencana dari sekadar merespons kejadian menjadi lebih aktif mencegah dan mengantisipasi risiko.
Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan kehadiran petugas ketika bencana terjadi. Mereka juga membutuhkan perlindungan sebelum bencana datang.
Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan. Dan memastikan masyarakat tetap aman harus menjadi bagian terpenting dari setiap upaya penanganan bencana.
Komentar (0)
Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.
