
KEBUMEN — Wacana pemindahan makam Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro kembali menjadi sorotan publik. Pegiat sejarah Ravie Ananda menilai niat dan usulan untuk memindahkan makam Sang Pangeran dari Makassar ke tanah kelahirannya sebenarnya tidak bertentangan dengan catatan sejarah kuno, melainkan sejalan dengan wasiat pribadi beliau yang tertuang dalam Babad Diponegoro.
Dalam keterangannya, Ravie mengutip naskah kuno Babad Diponegoro pada Pupuh XLIII Maskumambang bait 69 hingga 71. Naskah tersebut merekam keteguhan Pangeran Diponegoro saat berhadapan dengan pihak kolonial Belanda serta pesan terakhir beliau mengenai tempat peristirahatan terakhimya.
Pupuh XLIII Maskumambang (Bait 69–70):
"Pan wus yekti lamun hora nanang maning, jaba pinatenan, hingsun tan sedya gumingsir, nanging sun mekas mringsira. Lamun mati pan niki kunarpa mami, sira hulihena, marang jimat tan sebab dening, tunggal lawan garwaningwang."
"Jika kita lihat di Babad Diponegoro, pesan beliau sangat jelas. Beliau berwasiat jika gugur agar jenazahnya dipulangkan dan dimakamkan di Pajimatan (makam raja-raja Mataram di Imogiri) supaya bisa bersatu dengan istrinya," ujar Ravie.
Dalam naskah tersebut juga dicatat bahwa keteguhan sikap Pangeran Diponegoro membuat Pimpinan Militer Belanda, Jenderal De Kock, tertunduk malu (Bait 71). Pihak Belanda kemudian menawarkan kompromi dan menanyakan keinginan Pangeran Diponegoro. Saat itu, Pangeran Diponegoro meminta diizinkan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci dengan meminta disiapkan kapal serta bekal yang mencukupi.
Namun, permintaan ibadah haji tersebut tak pernah terwujud karena pihak kolonial terus menunda keputusan hingga Pangeran Diponegoro akhirnya diasingkan dan tutup usia di Makassar.
Mengobarkan Semangat Nasionalisme
Lebih lanjut, Ravie menilai pemindahan makam Pangeran Diponegoro ke tanah asalnya tidak hanya sekadar menuntaskan wasiat sejarah yang terhalang oleh kolonial, tetapi juga memiliki nilai strategis bagi kebangsaan.
"Dengan dipindahkan, efeknya akan sangat positif dalam mengobarkan bara nasionalisme, khususnya di wilayah tempat Pangeran Diponegoro berasal. Langkah serupa juga bisa dipertimbangkan untuk pahlawan nasional lain yang diasingkan, seperti Cut Nyak Dien, agar jiwanya selalu menyatu dengan masyarakat tempat beliau lahir dan berjuang," pungkasnya.
Komentar (0)
Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.
