Program GENTING: Memperkuat Rumah, Gizi, dan Masa Depan Keluarga Indonesia

30 Sep 2026181Foto Reza HermawanReza Hermawan
801543 cropped

Upaya pemerintah menekan angka stunting nasional kini semakin diarahkan pada pendekatan yang lebih menyeluruh. Pencegahan stunting tidak cukup hanya dilakukan melalui pemberian makanan bergizi atau layanan kesehatan, tetapi juga perlu menyentuh kondisi lingkungan tempat tinggal keluarga yang berada dalam risiko. Dalam konteks inilah, penguatan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) yang dijalankan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) menjadi salah satu langkah penting.

Data terbaru menunjukkan bahwa Indonesia telah mencatat kemajuan. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting nasional turun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024. Pemerintah menargetkan prevalensi tersebut terus turun menjadi 18,8 persen pada 2025 dan 14,2 persen pada 2029.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kebijakan percepatan penurunan stunting telah menghasilkan kemajuan, tetapi pekerjaan rumah masih besar. SSGI 2024 juga menunjukkan bahwa stunting berkaitan dengan berbagai kondisi sosial dan ekonomi keluarga. Karena itu, intervensi harus semakin tepat sasaran dan tidak berhenti pada penanganan ketika anak sudah mengalami gangguan pertumbuhan.

GENTING merupakan gerakan gotong royong yang melibatkan masyarakat, dunia usaha, lembaga, maupun pihak lainnya sebagai Orang Tua Asuh bagi keluarga berisiko stunting. Sasaran utamanya adalah keluarga berisiko stunting yang memiliki anggota keluarga dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), termasuk ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia 0–23 bulan.

Yang menarik, bantuan GENTING tidak hanya berupa dukungan nutrisi. Program ini juga mencakup bantuan non-nutrisi, akses air bersih, serta edukasi. Portal resmi GENTING Kemendukbangga secara khusus mencantumkan perbaikan infrastruktur MCK dan rumah layak huni sebagai bagian dari bantuan non-nutrisi.

Pendekatan tersebut penting karena tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi lingkungan tempat tinggal. Pemenuhan makanan bergizi akan lebih optimal apabila keluarga juga memiliki akses terhadap air bersih, sanitasi yang baik, serta rumah yang layak.

Penguatan aspek hunian dalam GENTING menunjukkan bahwa pemerintah melihat persoalan stunting secara lebih komprehensif. Keluarga yang memiliki risiko stunting tidak selalu membutuhkan bantuan dalam bentuk yang sama. Ada yang membutuhkan dukungan nutrisi, ada yang membutuhkan edukasi, sementara keluarga lainnya membutuhkan perbaikan lingkungan tempat tinggal.

Langkah konkret terlihat dalam kunjungan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji ke Pangkal Balam, Bangka Belitung, pada Agustus 2026. Dalam kegiatan tersebut, pemerintah menyaksikan penyerahan bantuan perbaikan rumah tidak layak huni kepada tiga keluarga penerima manfaat, sekaligus bantuan nutrisi dan Program Makan Bergizi Gratis bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD.

Dalam kasus tersebut, PT Timah berperan sebagai Orang Tua Asuh dengan memberikan dukungan perbaikan rumah. Ini memperlihatkan bagaimana GENTING dapat menjadi jembatan kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha untuk menjangkau keluarga yang membutuhkan.

Salah satu nilai penting GENTING adalah kemampuannya memperluas dukungan kepada keluarga yang mungkin menghadapi kendala administratif dalam mengakses program pemerintah.

Kemendukbangga menjelaskan bahwa skema orang tua asuh dapat membantu keluarga yang belum dapat menerima bantuan tertentu karena persyaratan administratif, termasuk persoalan dokumen kepemilikan. Dengan pendekatan kolaboratif, bantuan dapat diarahkan sesuai kebutuhan keluarga dengan tetap memperhatikan kewenangan dan tata kelola yang berlaku.

Ini merupakan pendekatan yang relevan karena penanganan stunting membutuhkan kecepatan sekaligus ketepatan sasaran. Jangan sampai keluarga yang sudah teridentifikasi memiliki risiko kehilangan momentum intervensi hanya karena persoalan yang sebenarnya dapat dicarikan solusi melalui kolaborasi.

Hal lain yang perlu diapresiasi adalah penggunaan data keluarga sebagai dasar penentuan sasaran. Sistem Informasi Keluarga (SIGA) Kemendukbangga/BKKBN menyediakan data keluarga, termasuk sebaran keluarga berisiko stunting, sehingga intervensi dapat diarahkan kepada kelompok yang membutuhkan.

Sementara itu, SSGI 2024 Kementerian Kesehatan menggunakan survei berskala nasional dengan sampel 345.000 rumah tangga balita yang tersebar di 34.500 blok sensus dan 514 kabupaten/kota. Data tersebut mencakup indikator seperti akses air minum layak, sanitasi layak, pemantauan tumbuh kembang, serta pendampingan keluarga berisiko stunting.

Artinya, arah kebijakan semakin menunjukkan pentingnya menggabungkan data kesehatan, kondisi keluarga, gizi, sanitasi, dan lingkungan dalam merancang intervensi.

Pencegahan stunting pada akhirnya bukan pekerjaan satu kementerian. GENTING justru menempatkan semangat gotong royong sebagai kekuatan utama. Pemerintah menjadi penggerak dan pengendali program, sementara dunia usaha, BUMN, organisasi masyarakat, komunitas, dan individu dapat mengambil peran sebagai Orang Tua Asuh.

Model seperti ini sejalan dengan kebutuhan penanganan stunting yang bersifat lintas sektor. Bahkan dalam struktur GENTING, terdapat mekanisme Tim Pengendali di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota, dengan dukungan PKB/PLKB serta Tim Pendamping Keluarga hingga tingkat lapangan.

Dengan demikian, program tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi juga memiliki mekanisme pendataan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan.

Penurunan prevalensi stunting menjadi 19,8 persen pada 2024 merupakan perkembangan positif, tetapi target berikutnya membutuhkan konsistensi dan intervensi yang semakin tajam. Pemerintah telah menetapkan target 14,2 persen pada 2029, sehingga upaya pencegahan harus terus diperkuat.

GENTING memberikan perspektif penting bahwa mencegah stunting berarti menjaga anak sejak sebelum lahir dan selama periode 1.000 HPK, sekaligus memastikan keluarga memiliki lingkungan yang mendukung tumbuh kembang.

Rumah yang layak, air bersih, sanitasi, makanan bergizi, edukasi, pendampingan keluarga, dan layanan kesehatan merupakan bagian yang saling berkaitan. Karena itu, pembenahan rumah keluarga berisiko stunting bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan bagian dari investasi jangka panjang terhadap kualitas manusia Indonesia.

Program GENTING pada akhirnya membawa pesan sederhana tetapi penting: pencegahan stunting dimulai dari keluarga, diperkuat oleh lingkungan yang sehat, dan diperluas melalui gotong royong seluruh elemen bangsa. Ketika pemerintah mampu mengintegrasikan data, intervensi gizi, perbaikan hunian, sanitasi, air bersih, dan partisipasi masyarakat, maka upaya menekan stunting dapat semakin menyentuh akar persoalan dan menjangkau keluarga yang benar-benar membutuhkan.

Dengan penguatan program seperti GENTING, kehadiran negara tidak hanya terlihat melalui angka penurunan prevalensi, tetapi juga melalui perubahan nyata di tempat yang paling dekat dengan kehidupan anak, yaitu rumah dan keluarganya.

Komentar (0)

Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.

Masuk atau daftar untuk bergabung dalam diskusi. Kami melindungi akun Anda dengan keamanan berlapis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.