Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Penguatan Mindset Siswa Indonesia

14 Sep 202619Foto Reza HermawanReza Hermawan
WhatsApp Image 2026 09 14 at 22.51.38 cropped

Pendidikan merupakan fondasi utama bagi kemajuan bangsa. Karena itu, upaya pemerintah meningkatkan mutu pendidikan nasional patut diapresiasi, sekaligus perlu dikawal agar peningkatan kualitas akademik berjalan seiring dengan pembentukan karakter, kepercayaan diri, daya kritis, dan growth mindset peserta didik.

Data internasional terbaru menunjukkan bahwa tantangan pendidikan Indonesia masih besar, tetapi juga memberikan dasar yang kuat bagi pemerintah untuk melakukan pembenahan secara lebih terarah. Dalam PISA 2025, yang dirilis OECD pada September 2026, Indonesia mencatat skor rata-rata 389 poin dalam sains, sementara 63,2% siswa masih berada pada kelompok berperforma rendah dalam sains. Angka ini menunjukkan bahwa peningkatan mutu pembelajaran harus terus menjadi agenda strategis nasional.

Namun, melihat data pendidikan hanya dari skor akademik tentu tidak cukup. Pendidikan yang berkualitas harus menghasilkan anak-anak yang bukan hanya mampu menjawab soal, tetapi juga memiliki keberanian untuk bertanya, mencoba, melakukan kesalahan, belajar kembali, dan menemukan solusi. Di sinilah penguatan growth mindset menjadi sangat penting.

OECD menunjukkan bahwa siswa yang memiliki growth mindset, yakni keyakinan bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha dan proses belajar cenderung memiliki kecemasan matematika yang lebih rendah dan berkaitan dengan capaian matematika yang lebih baik. Dalam analisis PISA, siswa dengan growth mindset memperoleh rata-rata 18 poin lebih tinggi dalam matematika dibanding siswa dengan fixed mindset setelah memperhitungkan profil sosial-ekonomi siswa dan sekolah.

Temuan tersebut menjadi pesan penting bagi Indonesia. Sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat mengejar nilai dan menyelesaikan kurikulum. Sekolah harus menjadi ruang yang membuat peserta didik berani berpikir, berani menyampaikan pendapat, berani menghadapi kegagalan, dan percaya bahwa kemampuan mereka dapat terus berkembang.

Karena itu, langkah pemerintah untuk memperkuat kualitas pembelajaran perlu diarahkan pada metode yang lebih student-centered, berbasis pemecahan masalah, literasi, sains, kreativitas, kolaborasi, serta kemampuan berpikir kritis. Guru perlu semakin didorong menjadi fasilitator pembelajaran yang mampu membangun rasa ingin tahu dan kepercayaan diri siswa, bukan sekadar menyampaikan materi.

Perkembangan teknologi juga membuat agenda ini semakin penting. PISA 2025 menempatkan kemampuan belajar mandiri, adaptasi, rasa ingin tahu, ketekunan, serta penggunaan kecerdasan buatan sebagai bagian penting dari kesiapan siswa menghadapi masa depan. OECD juga menegaskan bahwa kemampuan menggunakan teknologi secara efektif harus disertai keterampilan dasar dan kemampuan mengatur proses belajar secara mandiri.

Dengan demikian, pendidikan Indonesia perlu bergerak dari paradigma “siswa pintar karena hafal” menjadi “siswa unggul karena mampu memahami, berpikir, beradaptasi dan memecahkan masalah.” Inilah modal penting untuk membangun sumber daya manusia Indonesia yang mampu bersaing secara global.

Pemerintah juga perlu memastikan agar peningkatan mutu tidak hanya dirasakan oleh sekolah-sekolah di wilayah perkotaan atau daerah dengan fasilitas pendidikan yang sudah maju. Pemerataan kualitas guru, sarana-prasarana, akses teknologi, bahan pembelajaran, serta dukungan bagi siswa dari keluarga kurang mampu harus terus diperkuat.

Data PISA memberikan alasan kuat untuk menjalankan agenda tersebut. Pada PISA 2022, misalnya, hanya 34% siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam sains, dibandingkan rata-rata OECD sebesar 76%. Dalam membaca, angkanya 25% dibanding rata-rata OECD 74%.

Angka tersebut bukan alasan untuk pesimis, melainkan peta jalan untuk melakukan perbaikan. Pemerintah memiliki kesempatan untuk menjadikan hasil asesmen internasional sebagai alat evaluasi dan dasar memperbaiki kebijakan pendidikan secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan nasional bukan hanya berapa tinggi skor ujian siswa. Keberhasilan pendidikan adalah ketika anak Indonesia memiliki ilmu pengetahuan yang kuat, karakter yang baik, rasa percaya diri, kemampuan berpikir kritis, semangat belajar sepanjang hayat, serta keyakinan bahwa dirinya mampu berkembang dan memberikan kontribusi bagi bangsa.

Karena itu, peningkatan kualitas pendidikan dan penguatan mindset siswa harus berjalan beriringan. Pemerintah perlu terus memperbaiki sistem pembelajaran, meningkatkan kapasitas guru, memperluas pemerataan kualitas pendidikan, serta menciptakan lingkungan sekolah yang mendorong keberanian berpikir dan belajar dari kegagalan.

Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar menjawab soal. Indonesia membutuhkan generasi yang berani bertanya, mampu berpikir kritis, tidak mudah menyerah, adaptif terhadap perubahan, dan percaya bahwa masa depan dapat dibangun melalui kerja keras dan pembelajaran. Inilah fondasi penting untuk mewujudkan SDM Indonesia yang unggul, berkarakter, kompetitif secara global, dan siap membawa Indonesia menjadi negara maju.

Komentar (0)

Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.

Masuk atau daftar untuk bergabung dalam diskusi. Kami melindungi akun Anda dengan keamanan berlapis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.