Mereka Pernah Gagal Sekolah, Tapi Nggak Pernah Gagal Berjuang

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota Surakarta, kisah seorang remaja bernama Al Sandhy Yusen Prasetya menjadi potret nyata dari semangat dan perubahan yang dibawa program Sekolah Rakyat, salah satu prioritas nasional di bidang pendidikan. Sandhy, siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 17 Surakarta, kini kembali menata mimpi yang sempat terkubur karena kemiskinan.
"Saya ingin jadi atlet sepak bola," ucap Sandhy dengan mata berbinar. Dulu, impian itu sempat padam ketika ia terpaksa putus sekolah di bangku SMK karena orang tuanya tak sanggup lagi menanggung biaya. Dalam keputusasaan, Sandhy sempat bekerja serabutan untuk membantu keluarga. Namun, takdir membawanya kembali ke dunia pendidikan melalui Sekolah Rakyat, sebuah program yang membuka pintu harapan bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu.
Di SRMA 17 Surakarta, Sandhy kini merasakan atmosfer belajar yang berbeda. Menurutnya, sistem pembelajaran berjalan layaknya sekolah menengah atas pada umumnya, namun dengan disiplin dan kemandirian tinggi karena seluruh siswa tinggal di asrama. "Kami juga ikut kegiatan ekstrakurikuler dan outing class, jadi bukan cuma belajar di kelas," ujarnya.
Baginya, kesempatan menempuh pendidikan gratis ini bukan hanya soal sekolah, tetapi juga tentang mengembalikan harga diri dan kepercayaan diri. Semua kebutuhan - mulai dari tempat tinggal, makan, hingga perlengkapan belajar - ditanggung sepenuhnya oleh negara. "Keluarga saya tidak mengeluarkan biaya sepeser pun. Sekolah Rakyat membantu kami yang dulu tidak punya kesempatan," tutur Sandhy penuh rasa syukur.
Ia pun menuturkan pesan menyentuh untuk orang tuanya. "Semoga Bapak dan Ibu bisa sabar menunggu saya sukses. Saya yakin, suatu hari nanti saya akan membanggakan kalian," ujarnya.
Kisah serupa datang dari Marwah Syakina Fadillah Isnaini, siswi berkerudung yang juga menempuh pendidikan di SRMA 17 Surakarta. Bagi Marwah, Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuh bagi impian. "Kami belajar dengan tenang, tanpa gangguan, dan bisa mengembangkan bakat masing-masing," katanya.
Meski sempat merasa berat karena harus tinggal jauh dari orang tua, kini Marwah mengaku bahagia. Hidup di asrama membuatnya memiliki keluarga baru - teman-teman seperjuangan yang saling menguatkan. "Saya ingin disiplin, bisa mengangkat derajat orang tua, dan mengurangi beban mereka. Sekolah Rakyat membuat kami percaya diri untuk meraih cita-cita setinggi mungkin," ucapnya.
Data terbaru menunjukkan, hingga akhir Oktober 2025, pemerintah telah membuka lebih dari 160 Sekolah Rakyat di berbagai daerah. Angka ini melampaui target awal 100 sekolah hingga pertengahan 2026. Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi capaian tersebut dan menyebutnya sebagai langkah nyata memperkuat akses pendidikan bagi rakyat kecil.
"Ini luar biasa. Saya berterima kasih kepada seluruh jajaran menteri dan pihak yang bekerja keras mewujudkannya," ujar Presiden Prabowo saat meninjau salah satu Sekolah Rakyat.
Hingga kini, program tersebut telah menampung hampir 16 ribu siswa dari keluarga miskin ekstrem. Mereka belajar dan tinggal di asrama dengan fasilitas lengkap mulai dari laboratorium, ruang olahraga, hingga perpustakaan modern semuanya tanpa pungutan biaya.
Presiden Prabowo menegaskan, Sekolah Rakyat adalah simbol keberanian bangsa untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. "Anak orang miskin tidak harus menjadi miskin. Kita harus berani mengubah nasib, berani memotong rantai kemiskinan. Kita tidak boleh menyerah pada keadaan," tegasnya.
Lebih jauh, Kepala Negara optimistis program ini akan menjadi pondasi pendidikan keadilan sosial di Indonesia. Targetnya, 500 Sekolah Rakyat akan berdiri hingga tahun 2029, memberi kesempatan bagi puluhan ribu anak lain seperti Sandhy dan Marwah untuk mengejar masa depan yang lebih cerah.
Program ini bukan sekadar proyek pendidikan. Ia adalah gerakan kemanusiaan dan harapan, yang memberi bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari ruang kelas sederhana, dari anak-anak yang menolak menyerah, dan dari negara yang hadir untuk rakyatnya.
Inilah wajah baru pendidikan Indonesia: di tangan para siswa Sekolah Rakyat, mimpi bukan lagi milik mereka yang mampu, melainkan hak setiap anak bangsa.
Komentar (0)
Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.
