
Perubahan iklim kini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga menyentuh ketahanan pangan, ketersediaan air, energi, ekonomi, hingga stabilitas masyarakat. Indonesia pun mendorong agar ancaman tersebut dihadapi dengan memperkuat ketahanan nasional.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyampaikan hal tersebut dalam Climate Security Dialogue yang digelar di sela-sela High-level Week Sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, 23 September.
“Penguatan ketahanan nasional merupakan kunci untuk menghadapi risiko perubahan iklim dan degradasi ekosistem,” tegas Sugiono.
Menurut Indonesia, konsep climate security tidak bisa dipersempit hanya pada isu lingkungan. Perubahan iklim dapat memengaruhi kemampuan negara dalam melindungi masyarakat, menjaga mata pencaharian, mempertahankan aktivitas ekonomi, serta menghadapi berbagai guncangan.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menghadapi risiko perubahan iklim secara langsung. Karena itu, adaptasi tidak dapat diperlakukan sebagai agenda yang baru dilakukan di masa mendatang.
Sugiono menekankan perlunya membangun ketahanan lintas sektor, terutama pada pangan, air, dan energi. Pendekatan tersebut juga tercermin dalam Second Nationally Determined Contribution Indonesia yang menempatkan ketahanan pangan, air, energi, serta transisi energi sebagai bagian penting dari respons nasional terhadap perubahan iklim.
Bukan Hanya Soal Komitmen
Indonesia juga mengingatkan bahwa kemampuan menghadapi risiko iklim membutuhkan kesiapan sejak awal. Karena itu, risk assessment dan kesiapsiagaan perlu diperkuat, terutama di negara-negara berkembang.
Untuk menjalankan upaya tersebut, negara berkembang membutuhkan akses terhadap pendanaan konsesional, teknologi, peningkatan kapasitas, dan investasi.
Dukungan internasional diperlukan agar negara-negara berkembang tidak hanya memiliki komitmen, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menerjemahkannya menjadi aksi nyata.
Indonesia turut menekankan pentingnya kerja sama climate security yang memperkuat sistem multilateral yang telah ada sekaligus tetap sejalan dengan prioritas nasional.
Forum tersebut menjadi ruang bagi berbagai negara untuk bertukar pengalaman dan membahas langkah praktis dalam memperkuat penilaian risiko, kesiapsiagaan, serta kerja sama menghadapi perubahan iklim dan degradasi ekosistem.
Climate Security Dialogue diselenggarakan oleh Menteri Luar Negeri Inggris bersama Menteri Luar Negeri Kenya dan High Representative Uni Eropa sebagai co-hosts.
Bagi Indonesia, memperkuat ketahanan menghadapi perubahan iklim pada akhirnya bukan hanya tentang menjaga lingkungan. Isu ini berkaitan langsung dengan kemampuan negara memastikan pangan, air, energi, ekonomi, dan kehidupan masyarakat tetap terlindungi di tengah perubahan dunia yang semakin penuh risiko.
Komentar (0)
Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.
