Menlu Sugiono di PBB, Indonesia Tak Lagi Sekadar Hadir: Suara Politik, Perdamaian hingga Peluang Ekonomi Dibawa Sekaligus

24 Sep 202628Foto MonskyMonsky
Dari isu Palestina, kerja sama ASEAN–Pasifik, hingga pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB 2029–2030, Menlu Sugiono membawa sejumlah kepentingan Indonesia ke meja diplomasi dunia.
Dari isu Palestina, kerja sama ASEAN–Pasifik, hingga pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB 2029–2030, Menlu Sugiono membawa sejumlah kepentingan Indonesia ke meja diplomasi dunia.

Ada satu hal yang menarik dari kehadiran Menteri Luar Negeri RI Sugiono di Sidang Majelis Umum PBB ke-81: Indonesia tidak datang hanya untuk duduk, mendengar, lalu pulang.

Di tengah dunia yang sedang penuh masalah—perang, konflik, ketegangan antarnegara, perubahan iklim, sampai perebutan pengaruh global—Indonesia justru membawa agenda yang cukup lengkap. Ada Palestina, ada reformasi PBB, ada kepentingan negara-negara Global South, tetapi juga ada kerja sama ekonomi dan peluang yang bisa berujung pada manfaat bagi masyarakat.

Inilah yang membuat diplomasi Indonesia di New York menarik untuk diperhatikan.

Sugiono memimpin Delegasi Indonesia dalam pembukaan Debat Umum SMU PBB ke-81. Namun pekerjaan diplomasi tidak berhenti ketika acara di ruang sidang selesai. Di luar forum utama, pertemuan dengan berbagai negara terus dilakukan untuk membuka komunikasi dan memperkuat hubungan Indonesia.

Artinya sederhana: Indonesia tidak hanya ingin suaranya terdengar, tetapi juga ingin punya lebih banyak teman untuk memperjuangkan kepentingannya.

Palestina: Indonesia Memilih Tetap Bersuara

Persoalan Palestina menjadi salah satu agenda penting yang dibawa Indonesia.

Di tengah konflik yang belum selesai, Indonesia kembali menyuarakan perlunya perdamaian dan penyelesaian konflik. Bukan hanya dalam bentuk pernyataan politik, tetapi juga dengan mendorong upaya kemanusiaan dan kerja sama internasional.

Sikap ini penting karena ketika konflik berlangsung begitu lama, masyarakat dunia bisa saja terbiasa mendengar berita tentang korban dan kehancuran.

Indonesia memilih untuk tidak menganggap kondisi tersebut sebagai sesuatu yang normal.

Melalui forum internasional, Indonesia terus mendorong agar bantuan kemanusiaan dapat berjalan, perdamaian diupayakan, dan persoalan Palestina tetap menjadi perhatian masyarakat internasional.

Ini juga menunjukkan bahwa politik luar negeri Indonesia tidak hanya bicara tentang kepentingan Indonesia sendiri. Ada persoalan kemanusiaan yang dianggap perlu terus disuarakan.

Tetapi Diplomasi Bukan Cuma Soal Politik

Menariknya, Sugiono tidak hanya berbicara mengenai perang dan konflik.

Di sela-sela agenda PBB, Indonesia juga mendorong kerja sama ASEAN dengan Pacific Alliance yang beranggotakan Cili, Kolombia, Meksiko, dan Peru.

Sekilas mungkin terdengar jauh dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Tetapi justru di sinilah diplomasi memiliki sisi lain.

Indonesia mendorong konektivitas bukan hanya dalam bentuk jalan, pelabuhan, atau perdagangan, tetapi juga konektivitas digital dan hubungan antarkota.

Kerja sama kota cerdas bahkan didorong agar kota-kota di ASEAN dan negara-negara Pacific Alliance dapat saling berbagi pengalaman serta mengembangkan solusi terhadap persoalan perkotaan.

Jadi, diplomasi ternyata bukan cuma soal pejabat berjabat tangan di luar negeri.

Kalau berhasil diterjemahkan dengan baik, diplomasi bisa membuka pintu perdagangan, teknologi, pendidikan, pariwisata, investasi, dan berbagai peluang kerja sama lainnya.

Bertemu Inggris, Jerman, Belanda hingga Banyak Negara Lain

Pola yang sama terlihat dari pertemuan bilateral Sugiono.

Dengan Inggris, Indonesia membahas penguatan New Strategic Partnership. Dengan Jerman, hubungan bilateral diperkuat menjelang 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara. Sementara dengan Belanda, pembahasan mencakup kerja sama bilateral dan isu Palestina.

Indonesia juga membahas penguatan misi perdamaian PBB bersama Belanda dan pejabat PBB. Bahkan UN Peacekeeping Ministerial 2027 direncanakan berlangsung di Jakarta bersama Belanda.

Di sela-sela agenda tersebut, Sugiono juga berinteraksi dengan berbagai negara dan mitra, mulai dari negara ASEAN hingga Kanada, Kolombia, Belarus, Mongolia, dan Uni Eropa.

Kalau dilihat satu per satu, semuanya mungkin tampak seperti pertemuan biasa.

Tetapi kalau disatukan, terlihat sebuah pola: Indonesia sedang memperluas jaringan.

Semakin banyak negara yang bisa diajak bekerja sama, semakin banyak pula ruang yang tersedia untuk memperjuangkan kepentingan Indonesia.

Indonesia Sedang Mencari Kursi, Sekaligus Mencari Pengaruh

Ada satu agenda lain yang tidak kalah penting: pencalonan Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB periode 2029–2030.

Sugiono memanfaatkan berbagai pertemuan di New York untuk menggalang dukungan.

Ini bukan sekadar soal mendapatkan satu kursi.

Jika Indonesia berhasil mendapatkan dukungan, maka Indonesia akan memiliki ruang yang lebih besar untuk terlibat dalam pembahasan mengenai perdamaian dan keamanan internasional.

Tentu saja, prosesnya masih panjang. Dukungan dari negara lain juga tidak datang dengan sendirinya.

Karena itu, diplomasi seperti yang dilakukan Sugiono menjadi bagian dari proses membangun kepercayaan. Bertemu, berdialog, menjelaskan posisi Indonesia, dan mencari titik temu dengan negara lain.

Diplomasi yang Paling Penting Adalah yang Pulang Membawa Hasil

Pada akhirnya, rakyat Indonesia mungkin tidak terlalu peduli berapa banyak pertemuan yang dilakukan seorang menteri di New York.

Yang lebih penting adalah apa hasilnya.

Apakah hubungan dengan negara lain semakin kuat?

Apakah ada peluang ekonomi baru?

Apakah posisi Indonesia dalam isu global semakin didengar?

Apakah kerja sama internasional bisa membantu pembangunan Indonesia?

Dan apakah suara Indonesia benar-benar ikut berkontribusi terhadap perdamaian dunia?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang nantinya menjadi ukuran penting.

Dari rangkaian agenda Sugiono di PBB, terlihat bahwa diplomasi Indonesia sedang dimainkan di banyak meja sekaligus. Di satu sisi membawa isu Palestina dan perdamaian. Di sisi lain memperjuangkan reformasi sistem multilateral dan suara Global South. Pada saat yang sama, Indonesia membuka pintu kerja sama ekonomi, teknologi, pendidikan, pariwisata, hingga misi perdamaian.

Di bawah Presiden Prabowo Subianto, diplomasi Indonesia memiliki tantangan untuk memastikan semua aktivitas tersebut tidak berhenti menjadi seremoni.

Sebab Indonesia tidak membutuhkan diplomasi yang hanya terlihat sibuk. Indonesia membutuhkan diplomasi yang menghasilkan sesuatu.

Dan dari New York, Menlu Sugiono sedang membawa pesan yang cukup jelas: Indonesia ingin didengar dalam urusan dunia, tetapi pada saat yang sama ingin memastikan hubungan internasional juga memberikan manfaat nyata bagi rakyat di dalam negeri.

Komentar (0)

Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.

Masuk atau daftar untuk bergabung dalam diskusi. Kami melindungi akun Anda dengan keamanan berlapis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.