Jelang Final, Menpora dan Presiden FIFA Merapat ke Istana: Sinyal Kuat Diplomasi Sepak Bola dan Strategi Indonesia di Panggung Internasional

5 Okt 2026168Foto Reza HermawanReza Hermawan
815184 cropped

Pertemuan Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir dan Presiden FIFA Gianni Infantino dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Senin (5/10/2026) layak dibaca sebagai momentum positif bagi Indonesia. Pertemuan ini bukan sekedar agenda olahraga, tetapi menunjukkan bahwa sepak bola semakin ditempatkan sebagai bagian dari diplomasi dan strategi Indonesia di panggung internasional.

Yang menarik, pertemuan tersebut berlangsung tepat ketika Indonesia menjadi salah satu tuan rumah FIFA ASEAN Cup 2026 dan Timnas Indonesia bersiap menghadapi Thailand pada laga final. Presiden FIFA Gianni Infantino sendiri sebelumnya menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan turnamen di Indonesia dan menilai Indonesia sebagai tuan rumah yang luar biasa bagi tim-tim ASEAN.

Ini tentu menjadi kredit positif bagi pemerintah, khususnya Menpora Erick Thohir, yang berhasil membangun komunikasi dengan FIFA sekaligus mengawal penyelenggaraan kompetisi internasional di Indonesia.

Lebih jauh, angka dan faktanya juga cukup kuat. FIFA ASEAN Cup 2026 merupakan edisi perdana dan melibatkan 14 negara, termasuk seluruh 11 negara ASEAN serta tiga negara tamu. Indonesia dan Hong Kong menjadi tuan rumah penyelenggaraan pertama turnamen tersebut. FIFA menyebut kompetisi ini dirancang untuk meningkatkan kualitas pertandingan internasional, memperkuat hubungan kawasan, serta membuka peluang baru bagi perkembangan sepak bola Asia Tenggara.

Indonesia juga menunjukkan kapasitas sebagai penyelenggara. Pada laga pembuka di Jakarta, sekitar 38.000 penonton hadir menyaksikan Indonesia menghadapi Singapura di Stadion Utama Gelora Bung Karno. FIFA menyebut atmosfer dan antusiasme tersebut sebagai bagian dari peluang besar untuk mengembangkan sepak bola di kawasan.

Dari sisi prestasi, Timnas Indonesia pun berhasil mencapai final setelah kemenangan telak 9-2 atas Bangladesh, sekaligus menjadi tim dengan jumlah gol terbanyak pada fase grup. Ini menunjukkan bahwa penyelenggaraan turnamen tidak berhenti pada aspek seremoni, tetapi juga memberikan ruang kompetisi yang konkret bagi perkembangan tim nasional.

Yang tak kalah penting adalah hubungan pemerintah Indonesia dengan FIFA yang semakin strategis. Pada September 2025, Prabowo dan Infantino sudah bertemu di New York. FIFA ketika itu menyatakan apresiasi atas dukungan Presiden Prabowo terhadap sepak bola Indonesia dan menyebut sepak bola Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan. FIFA juga menegaskan keberadaan hub regional FIFA untuk Asia Tenggara dan Asia Timur di Jakarta, yang semakin memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem sepak bola regional.

Dari sini terlihat bahwa kunjungan Infantino ke Istana bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ada kesinambungan diplomasi olahraga yang dibangun pemerintah, PSSI, Kemenpora, dan FIFA.

Bahkan sejak Juni 2026, Presiden Prabowo telah memberikan dukungan terhadap pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah FIFA ASEAN dan meminta koordinasi lintas kementerian untuk memperkuat persiapan. Pemerintah juga menyatakan dukungan terhadap program pengembangan Timnas menuju target kualifikasi Piala Dunia 2030.

Di tingkat pembinaan olahraga secara umum, pemerintah juga mulai mendorong pendekatan jangka panjang. Kemenpora mencatat Presiden Prabowo menyetujui terobosan pemusatan latihan nasional (pelatnas) multi-years, sebuah pendekatan yang penting agar pembinaan atlet tidak bersifat instan dan terputus-putus.

Karena itu, pertemuan Prabowo–Infantino yang didampingi Menpora Erick Thohir patut dipandang sebagai sinyal positif. Indonesia sedang menunjukkan bahwa sepak bola bukan hanya soal pertandingan 90 menit, tetapi juga mengenai diplomasi, industri olahraga, pembinaan generasi muda, reputasi negara, dan posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan penting di Asia Tenggara.

Jika komunikasi Presiden Prabowo dengan FIFA terus dijaga, sementara Menpora dan PSSI mampu menerjemahkannya menjadi program nyata di lapangan, maka keuntungan terbesar bukan hanya kemenangan dalam satu turnamen, tetapi terbentuknya ekosistem sepak bola Indonesia yang lebih profesional, berkelanjutan, dan semakin diperhitungkan dunia.

Pada akhirnya, kedatangan Presiden FIFA ke Istana bersama Menpora membawa pesan sederhana tetapi penting, bahwa Indonesia semakin dipercaya, semakin diperhitungkan, dan semakin aktif memainkan peran dalam sepak bola internasional.

Komentar (0)

Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.

Masuk atau daftar untuk bergabung dalam diskusi. Kami melindungi akun Anda dengan keamanan berlapis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.