Hadirkan Pendidikan Yang Merata, Prabowo Sukses Hapus Stigma Jawa Sentris

Ada pesan penting dari pertemuan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq dengan siswa-siswa asal Papua di Sekolah Anak Indonesia (SAI), Sentul, Bogor. Pesan itu sederhana, tetapi memiliki makna besar "setiap anak Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin" Tidak peduli dari mana ia berasal. Tidak peduli apa sukunya. Tidak peduli apakah ia tumbuh di pusat kota atau dari wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan. Kesempatan untuk bermimpi dan memimpin adalah milik seluruh anak bangsa.
Dalam kunjungannya, Fajar mengajak siswa Papua membangun kepercayaan diri dan mengembangkan potensi agar suatu hari dapat kembali ke daerah asal dan ikut membangun Papua. Ia bahkan menyebut mereka sebagai bagian dari masa depan pemimpin Papua dan masa depan Indonesia.
Kalimat tersebut layak direnungkan. Selama ini, pembangunan pendidikan sering kali hanya dilihat dari jumlah gedung sekolah, buku, fasilitas, atau angka partisipasi pendidikan. Semua itu memang penting. Namun pendidikan sejatinya memiliki tugas yang jauh lebih besar: membentuk manusia yang percaya diri, mampu berpikir kritis, menghargai perbedaan, dan memiliki keberanian untuk mengambil tanggung jawab.
Itulah yang terlihat dari pendekatan pembelajaran di SAI. Pendidikan tidak hanya diberikan melalui buku teks, tetapi juga dihubungkan dengan budaya dan kehidupan sehari-hari. Bahkan busur panah digunakan sebagai media pembelajaran matematika, sementara seni ukir Asmat menjadi bagian dari pengembangan kreativitas siswa.
Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak harus menjauhkan anak dari akar budayanya untuk membuat mereka maju. Justru sebaliknya. Anak Papua dapat tumbuh dengan mengenal identitas dan budayanya, sekaligus memiliki wawasan untuk menjadi bagian dari Indonesia yang lebih besar.
Karena menjadi Indonesia tidak berarti kehilangan identitas daerah. Papua tetap Papua, dengan kekayaan budaya, sejarah, dan karakter masyarakatnya. Tetapi Papua juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Indonesia.
Pesan Wamendikdasmen bahwa “apa pun agama dan suku kita, kita adalah Indonesia” menjadi penting dalam konteks pendidikan. Sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai akademik. Sekolah juga menjadi ruang untuk belajar hidup bersama dalam keberagaman.
Dan dari ruang-ruang pendidikan seperti inilah persatuan Indonesia dapat dirawat. Lebih menarik lagi, cita-cita para siswa tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi jembatan antara mimpi pribadi dan kebutuhan daerah. Ada siswa asal Nabire yang bercita-cita menjadi pramugari. Ada pula siswa asal Intan Jaya yang ingin menjadi dokter karena melihat daerah asalnya masih membutuhkan tenaga kesehatan.
Cita-cita tersebut bukan sekadar mimpi. Jika pendidikan mampu memberikan kemampuan, karakter, dan kepercayaan diri, anak-anak Papua dapat menjadi generasi yang kelak kembali membawa pengetahuan mereka untuk membangun tanah kelahirannya.
Inilah makna penting dari pemerataan pendidikan. Bukan sekadar membuat anak-anak di daerah memperoleh pendidikan yang sama, tetapi membuka jalan agar mereka memiliki kesempatan yang sama untuk menentukan masa depan.
Pemerintah sendiri juga menempatkan penguatan pendidikan di wilayah 3T sebagai bagian dari upaya memperluas akses terhadap pendidikan bermutu. Kemendikdasmen menyebut revitalisasi satuan pendidikan tidak hanya menyangkut perbaikan bangunan, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung pembentukan karakter siswa.
Pada akhirnya, pembangunan Indonesia tidak boleh hanya diukur dari gedung-gedung tinggi di kota besar. Ukuran keberhasilan Indonesia juga terlihat dari seberapa jauh anak-anak di wilayah timur negeri mendapatkan kesempatan untuk bermimpi.
Hari ini mungkin mereka masih duduk di bangku sekolah. Besok, salah satu dari mereka bisa menjadi dokter yang melayani masyarakat Papua. Bisa menjadi guru. Bisa menjadi ilmuwan. Bisa menjadi pengusaha. Bisa menjadi pejabat publik. Bahkan bisa menjadi pemimpin nasional. Karena masa depan Indonesia tidak hanya lahir dari Jakarta, Bandung, Surabaya, atau kota-kota besar lainnya. Masa depan Indonesia juga tumbuh dari Papua.
Dari anak-anak yang hari ini sedang belajar mengenal dirinya, budayanya, bangsanya, dan cita-citanya. Maka pendidikan harus terus menjadi jembatan yang menghubungkan seluruh anak Indonesia dengan kesempatan yang sama. Sebab ketika seorang anak Papua diberi kesempatan untuk bermimpi menjadi pemimpin Indonesia, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya masa depan seorang anak. Yang sedang dibangun adalah masa depan Indonesia.
Komentar (0)
Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.
