Green Jobs Membuka Pintu Lapangan Kerja Baru bagi Indonesia

22 Sep 202626Foto AndriansahAndriansah
76fd7db2 cf1d 43e0 a996 5000c7c36679.jpeg cropped

Dunia kerja sedang berubah. Perubahan itu tidak selalu datang dalam bentuk gedung baru, mesin baru, atau perusahaan baru. Kadang, perubahan datang perlahan melalui teknologi yang mengubah cara kita bekerja, jenis pekerjaan yang dibutuhkan, hingga keterampilan yang harus dimiliki seorang tenaga kerja.

Kendaraan listrik berkembang. Energi terbarukan semakin diperhatikan. Industri mulai beradaptasi dengan prinsip keberlanjutan. Pengelolaan limbah, efisiensi energi, teknologi rendah emisi, dan berbagai sektor yang memperhatikan kelestarian lingkungan pun semakin membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan khusus.

Di tengah perubahan tersebut, satu pesan menjadi semakin penting, ketika teknologi berubah, keterampilan tenaga kerja juga harus berubah. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyampaikan bahwa perkembangan kendaraan listrik dan energi terbarukan membuka peluang kerja baru bagi tenaga kerja Indonesia. Pemerintah menargetkan jumlah tenaga kerja hijau mencapai sekitar 5,01–5,32 juta orang pada 2029.

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan tenaga kerja hijau atau green jobs? Sederhananya, green jobs adalah pekerjaan yang mendukung kegiatan ekonomi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pekerjaan ini tidak selalu berarti seseorang harus bekerja sebagai ahli lingkungan. Teknisi kendaraan listrik, pemasang dan teknisi panel surya, pekerja pengelolaan limbah, teknisi efisiensi energi, hingga tenaga profesional yang membantu industri mengurangi dampak terhadap lingkungan juga dapat termasuk dalam pekerjaan hijau.

Dengan kata lain, pekerjaan hijau bukan hanya pekerjaan tentang “menanam pohon” atau bekerja di bidang lingkungan. Pekerjaan hijau mencakup berbagai profesi yang membantu industri dan masyarakat menggunakan sumber daya secara lebih efisien, mengurangi pencemaran, menggunakan energi yang lebih bersih, serta menjalankan kegiatan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Di sinilah peluang baru mulai terbuka. Perkembangan kendaraan listrik, misalnya, membutuhkan teknisi yang memahami sistem kendaraan listrik, baterai, perangkat pengisian daya, hingga pemeliharaannya. Perkembangan energi surya membutuhkan tenaga kerja yang mampu memasang, mengoperasikan, dan merawat panel serta sistem pembangkit listrik tenaga surya.

Begitu pula dengan pengelolaan limbah. Ketika industri dan masyarakat semakin membutuhkan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik, muncul kebutuhan terhadap tenaga kerja yang memiliki kemampuan dalam pengolahan, pemilahan, daur ulang, hingga pemanfaatan kembali berbagai material.

Artinya, transisi hijau bukan hanya berbicara mengenai lingkungan. Di balik perubahan menuju ekonomi yang lebih ramah lingkungan terdapat persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat: kesempatan kerja.

Karena itu, tantangan terbesar bukan semata-mata bagaimana Indonesia mengikuti perkembangan teknologi, tetapi bagaimana memastikan tenaga kerja Indonesia memiliki kesempatan untuk menguasai teknologi tersebut.

Jangan sampai industri bergerak menuju masa depan, sementara sebagian tenaga kerja masih tertinggal karena tidak memiliki akses terhadap pelatihan dan peningkatan keterampilan.

Di sinilah pelatihan kerja menjadi semakin strategis. Fasilitas pelatihan kerja perlu terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri. Pelatihan tidak cukup hanya menghasilkan sertifikat. Yang lebih penting adalah apakah keterampilan yang diperoleh benar-benar dapat digunakan di tempat kerja, sesuai kebutuhan perusahaan, dan membuka jalan menuju pekerjaan atau usaha.

Kemnaker sendiri menekankan pentingnya keterlibatan industri dalam penyusunan kurikulum, penyediaan instruktur, praktik kerja, sertifikasi, hingga penempatan lulusan. Dengan pendekatan tersebut, pelatihan diharapkan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi memiliki hubungan nyata dengan kebutuhan dunia kerja.

Hal ini menjadi semakin penting karena transformasi dunia kerja tidak hanya terjadi di kota-kota besar. Daerah juga harus mendapatkan kesempatan yang sama. Potensi energi terbarukan, pengelolaan lingkungan, pertanian berkelanjutan, industri pengolahan, transportasi, hingga berbagai kegiatan ekonomi berbasis teknologi dapat berkembang sesuai karakter masing-masing wilayah. Karena itu, penyediaan pelatihan kerja perlu semakin responsif terhadap potensi ekonomi lokal sekaligus perkembangan kebutuhan industri.

Bayangkan seorang anak muda di daerah yang selama ini hanya mengenal pekerjaan konvensional. Ketika di wilayahnya mulai berkembang pembangkit energi terbarukan atau industri kendaraan listrik, peluang baru muncul. Tetapi peluang tersebut baru benar-benar bisa dimanfaatkan apabila ia memiliki keterampilan yang dibutuhkan.

Di sinilah negara, dunia pendidikan, industri, dan pemerintah daerah memiliki peran penting. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, balai pelatihan, perguruan tinggi, dan dunia usaha perlu membangun keterhubungan yang lebih kuat. Kolaborasi semacam ini penting agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi mengenai perubahan dunia kerja, tetapi memiliki akses nyata untuk meningkatkan kompetensinya.

Kita juga perlu melihat perubahan ini dari perspektif generasi muda. Bagi anak muda Indonesia, munculnya pekerjaan hijau atau green jobs dapat menjadi bagian dari peta baru dunia kerja. Mereka tidak hanya akan mencari pekerjaan yang sudah ada, tetapi juga berpotensi memasuki profesi yang berkembang seiring perubahan teknologi dan ekonomi.

Kemnaker sebelumnya menyebut pekerjaan hijau diproyeksikan dapat mencapai 5,3 juta hingga 9 juta lapangan kerja baru dalam rentang 5-10 tahun ke depan. Penyiapannya membutuhkan keterampilan siap kerja, kurikulum, instruktur, fasilitas, sertifikasi, dan pengakuan kompetensi. Karena itu, memperluas akses pelatihan berbasis teknologi dan lingkungan menjadi salah satu langkah yang relevan untuk mempersiapkan tenaga kerja menghadapi perubahan tersebut.

Informasi mengenai peluang kerja juga harus semakin mudah dijangkau masyarakat. Pemerintah melalui Pusat Pasar Kerja Indonesia atau Pasker ID telah menyediakan informasi pasar kerja secara digital dan mempublikasikan berbagai informasi mengenai pekerjaan hijau.

Artinya, ekosistem ketenagakerjaan ke depan tidak hanya membutuhkan pelatihan, tetapi juga membutuhkan informasi yang mempertemukan keterampilan dengan kesempatan kerja. Inilah prinsip penting yang perlu terus dikembangkan, teknologi berubah, keterampilan harus berubah, dan akses terhadap peluang kerja juga harus diperluas.

Transisi hijau tidak boleh dipahami hanya sebagai perubahan di sektor industri atau persoalan lingkungan. Bagi masyarakat, transisi ini juga berarti munculnya kebutuhan terhadap keterampilan baru dan kemungkinan terbukanya jenis pekerjaan baru.

Jika dipersiapkan dengan baik, perubahan tersebut dapat menjadi ruang bagi tenaga kerja Indonesia untuk meningkatkan kompetensi dan memasuki bidang pekerjaan yang terus berkembang.

Namun, proses tersebut membutuhkan kerja bersama. Pemerintah menyiapkan kebijakan dan infrastruktur pelatihan. Dunia pendidikan menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan masa depan. Industri memberikan gambaran mengenai kompetensi yang benar-benar dibutuhkan. Pemerintah daerah membuka akses dan mengidentifikasi potensi ekonomi lokal. Sementara masyarakat dan generasi muda mengambil kesempatan untuk terus belajar dan meningkatkan keterampilan.

Dengan cara itu, green jobs tidak lagi terdengar sebagai istilah asing. Green jobs adalah pekerjaan yang tumbuh dari kebutuhan untuk menjalankan kegiatan ekonomi dengan cara yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Teknisi kendaraan listrik, tenaga pemasang panel surya, pekerja pengelolaan limbah, ahli efisiensi energi, hingga berbagai profesi baru yang lahir dari perkembangan teknologi hijau adalah bagian dari perubahan tersebut.

Dengan memahami peluangnya, masyarakat dapat mulai melihat bahwa transisi hijau bukan hanya tentang perubahan teknologi, tetapi juga tentang perubahan kesempatan. masa depan dunia kerja bukan hanya tentang siapa yang memiliki teknologi paling canggih. Masa depan juga ditentukan oleh siapa yang memiliki manusia paling siap menggunakannya.

Indonesia memiliki tenaga kerja dalam jumlah besar. Tantangannya sekarang adalah memastikan mereka memiliki kompetensi yang sesuai dengan arah perubahan ekonomi. Karena itu, investasi pada keterampilan manusia menjadi bagian penting dari persiapan menghadapi masa depan. Teknologi boleh terus berubah. Industri boleh terus berkembang. Tetapi tenaga kerja Indonesia harus memiliki kesempatan untuk tumbuh bersama perubahan tersebut.

Komentar (0)

Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.

Masuk atau daftar untuk bergabung dalam diskusi. Kami melindungi akun Anda dengan keamanan berlapis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.