Gagasan Presiden Prabowo: Indonesia ASRI dan Transformasi Jakarta Menjadi Kota Hijau

Gagasan Presiden Prabowo Subianto untuk meluncurkan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) serta mendorong Jakarta menjadi kota hijau dan kota taman menunjukkan bahwa penataan lingkungan mulai ditempatkan sebagai bagian penting dari pembangunan perkotaan.
Dalam pernyataannya saat meresmikan LRT Jakarta jalur Kelapa Gading–Manggarai pada 16 September 2026, Presiden menyampaikan rencana mengumpulkan para gubernur, bupati, dan DPRD seluruh Indonesia dalam satu hingga dua pekan untuk meluncurkan gerakan tersebut.
Arah kebijakan ini relevan dengan tantangan Jakarta sebagai kawasan metropolitan dengan kepadatan aktivitas yang tinggi. Pemerintah tidak hanya berbicara mengenai estetika kota, tetapi juga mendorong penambahan ruang terbuka publik, taman, penghijauan gedung melalui vertical garden, pengelolaan sampah, serta penataan sungai dan kali. Presiden bahkan menekankan bahwa transformasi lingkungan tidak boleh berhenti di Jakarta, tetapi perlu diterapkan di ibu kota provinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Data terbaru menunjukkan bahwa pekerjaan tersebut memang masih memiliki ruang yang besar untuk diperkuat. Berdasarkan laporan capaian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk 2025, luas ruang terbuka hijau Jakarta mencapai 3.703,56 hektar atau 5,59 persen dari wilayah Jakarta, meningkat dari sekitar 5,3 persen pada 2024. Peningkatan itu antara lain berasal dari pembangunan 15 lokasi RTH taman, satu RTH jalur hijau, tiga RTH hutan, dan satu RTH makam.
Angka tersebut memperlihatkan dua hal sekaligus, yaitu ada kemajuan, tetapi kebutuhan penghijauan masih besar. Untuk itu, gagasan menjadikan Jakarta sebagai garden city perlu diterjemahkan menjadi program yang terukur, konsisten, dan menyentuh berbagai kawasan. Taman lingkungan, jalur hijau, pepohonan di ruang publik, taman vertikal, hingga ruang terbuka yang dapat digunakan masyarakat perlu dipandang sebagai bagian dari infrastruktur perkotaan.
Penataan ruang hijau juga memiliki dimensi kesehatan dan kualitas lingkungan. Dokumen perencanaan Jakarta mencatat bahwa kualitas udara menjadi salah satu persoalan lingkungan yang perlu mendapat perhatian, sementara keterbatasan ruang terbuka hijau juga masih menjadi tantangan. Dokumen tersebut mencatat luas RTH pada 2024 sekitar 5,35 persen dari luas Jakarta.
Oleh karena itu, Gerakan Indonesia ASRI akan lebih bermakna apabila dilengkapi target yang jelas, misalnya berapa hektar RTH yang ditambah, berapa taman publik yang dibangun, berapa sungai dan saluran air yang ditata, bagaimana pengurangan sampah diukur, serta bagaimana kualitas udara dan lingkungan permukiman dievaluasi secara berkala.
Konsep vertical garden yang disampaikan Presiden juga dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memperluas elemen hijau di kota yang memiliki keterbatasan lahan. Pemerintah pusat dan daerah dapat membangun skema insentif, standar teknis, serta kemitraan dengan pemilik gedung sehingga penghijauan tidak semata-mata menjadi kewajiban, tetapi menjadi bagian dari desain kota modern.
Yang tidak kalah penting adalah memastikan ruang hijau benar-benar menjadi ruang publik yang dapat dinikmati masyarakat. Taman harus mudah diakses, aman, terawat, memiliki fasilitas yang memadai, serta terintegrasi dengan transportasi publik dan jalur pejalan kaki. Rencana penambahan taman dan jalur jogging di Jakarta, yang juga mendapat dukungan Presiden, dapat menjadi bagian dari pendekatan tersebut.
Pada akhirnya, kota hijau bukan sekadar kota yang memiliki lebih banyak pohon. Kota hijau adalah kota yang mampu mengintegrasikan lingkungan, kesehatan masyarakat, mobilitas, pengelolaan sampah, tata air, ruang publik, dan kualitas hidup dalam satu kebijakan yang berkelanjutan.
Gerakan Indonesia ASRI dapat menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi pemerintah pusat dan daerah. Jakarta dapat menjadi salah satu titik awal, sementara prinsip yang sama diterapkan secara bertahap di seluruh ibu kota provinsi dan kabupaten/kota.
Dengan kata lain, transformasi lingkungan harus diukur dari perubahan nyata yang dirasakan warga masyarakat seperti udara yang lebih baik, sungai yang lebih bersih, sampah yang lebih terkendali, ruang publik yang lebih banyak, serta lingkungan permukiman yang semakin sehat dan nyaman. Dengan indikator yang jelas dan pelaksanaan yang konsisten, gagasan Indonesia ASRI dapat diterjemahkan menjadi agenda penataan kota yang konkret dan berjangka panjang.
Komentar (0)
Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.
